Hari pertama masa MPLS, aku berdiri kikuk di tengah lapangan sekolah, mengenakan seragam putih biru yang masih kebesaran. Wajah-wajah asing menyebar ke segala penjuru, semuanya tampak gugup seperti diriku. Saat itu, aku melihat seorang anak dengan rambut cepak dan senyum lebar menghampiriku. “Namaku Raka,” katanya sambil mengulurkan tangan. Aku membalas dengan ragu, “Aku Dimas.” Sejak perkenalan itu, kami mulai duduk berdampingan selama kegiatan MPLS berlangsung. Kami saling membantu menyusun yel-yel kelompok, tertawa saat disuruh push-up karena lupa nama kakak OSIS. Ada pula seorang gadis pendiam bernama Alia yang selalu mencatat dengan rapi setiap materi. Lama-kelamaan, kami bertiga menjadi teman akrab, seperti takdir yang menyatukan. Kami duduk di kelas yang sama, dan itulah awal cerita panjang kami. Setiap pagi, kami masuk bersama dan pulang berbarengan. Ketika ada tugas kelompok, kami selalu memilih satu sama lain. Tidak butuh waktu lama sampai kami dikenal sebagai “trio semangka” oleh guru BK karena selalu kompak. Dari MPLS yang menyebalkan itu, tumbuhlah benih persahabatan yang tak kami duga akan begitu berharga.
Memasuki semester pertama, kami mulai menemukan kenyamanan satu sama lain. Raka sering jadi orang pertama yang mengajak bercanda di kelas, mencairkan suasana saat guru belum datang. Alia, meskipun pendiam, selalu jadi penyelamat nilai kami ketika ulangan mendadak datang. Aku, yang suka menggambar, sering membantu mendekor mading kelas dan membuat sketsa untuk tugas seni. Ketiganya saling melengkapi, seperti puzzle yang menemukan potongan terakhirnya. Saat lomba 17-an, kami ikut lomba tarik tambang bersama dan walau kalah, tawa kami jadi juaranya. Setiap istirahat, kami duduk di bawah pohon ketapang di belakang kantin sambil membicarakan apapun: dari film kartun, pelajaran, sampai mimpi masa depan. Kadang kami saling bertukar cerita soal keluarga, masalah di rumah, atau hanya sekadar keluh kesah remaja. Tahun pertama terasa cepat berlalu, dan sebelum sadar, kami sudah di kelas 8. Persahabatan kami semakin kuat, walau mulai banyak tantangan. Ada rumor bahwa Alia akan pindah sekolah karena ayahnya dipindahkan dinas. Kami berdoa diam-diam agar itu tidak terjadi. Untungnya, kepindahan itu batal. Kami berjanji untuk tetap bersama sampai lulus.
Kelas 8 membawa tantangan baru, terutama soal pelajaran yang makin sulit. Matematika bukan lagi sekadar tambah kurang, dan IPA mulai mengenalkan istilah rumit. Tapi kami hadapi itu bersama. Kami buat jadwal belajar bersama setiap hari Sabtu di rumahku. Raka membawa camilan, Alia membawa buku, aku menyediakan ruang tamu. Suatu hari, Raka tiba-tiba murung, ternyata orang tuanya akan bercerai. Kami duduk bertiga di bawah pohon ketapang, mendengarkan ceritanya tanpa menghakimi. “Asal kalian nggak pergi juga,” katanya pelan. Kami menggenggam tangannya dan bilang, “Selama kita di sini, kamu nggak sendiri.” Momen itu mengikat kami lebih erat. Sejak itu, kami belajar bahwa pertemanan bukan hanya soal tawa, tapi juga tempat pulang saat hati luka. Kami mulai memahami arti mendengarkan, menguatkan, dan hadir tanpa diminta. Guru wali kelas bahkan memuji kekompakan kami. “Jarang ada anak SMP sekompak kalian,” katanya. Dan itu membuat kami bangga.
Menjelang akhir kelas 8, kami mulai punya ketertarikan masing-masing. Alia suka menulis puisi, Raka ikut ekskul basket, dan aku mulai mencoba menggambar komik. Walau kegiatan kami berbeda, kami tetap saling mendukung. Saat Alia juara lomba puisi, kami berdua membawakannya bunga plastik buatan tangan. Ketika Raka menang pertandingan basket antar sekolah, aku menggambarnya di komik yang kubuat. Mereka tertawa melihatnya, meski gambar Raka agak gendut. Kami belajar bahwa perbedaan bukan alasan untuk menjauh, tapi alasan untuk saling mengagumi. Di kelas, kami mulai sering terpisah kelompok. Tapi setelah bel pulang, kami selalu kembali berkumpul. Kami punya tempat nongkrong rahasia di pojok perpustakaan yang jarang dijamah orang.
Di situ, kami mencatat mimpi-mimpi kami di selembar kertas yang disimpan dalam kotak kecil. “Nanti kita buka pas hari kelulusan,” kata Alia. Kami sepakat, dan mengunci kotaknya dengan gembok mainan. Tiga tahun terasa semakin dekat untuk berakhir.
Kelas 9 tiba dengan suasana serius. Semua orang bicara soal UN dan sekolah lanjutan. Kami pun mulai les tambahan, kadang bersama, kadang terpisah. Tapi setiap minggu kami tetap menyempatkan waktu untuk duduk bertiga. Kami bercerita soal cita-cita. Raka ingin jadi pelatih basket, Alia ingin jadi penulis, dan aku ingin jadi ilustrator. Kami saling mengolok, “Semoga kita nggak jadi orang gagal bareng-bareng.” Tapi dalam hati, kami saling percaya. Kadang ada pertengkaran kecil. Raka pernah marah karena Alia tidak membalas chat. Aku pernah kecewa karena mereka tak datang ke pameran gambarku. Tapi semua selalu selesai dengan maaf dan pelukan. Kami sadar, tiga tahun bukan tanpa luka, tapi luka itulah yang membuat ikatan makin kuat. Saat pengumuman kelulusan mendekat, kami mulai gelisah. Bukan takut tidak lulus, tapi takut waktu bersama akan berakhir.
Hari pengumuman kelulusan pun tiba. Kami datang lebih awal, duduk bertiga di bangku paling belakang. Nama demi nama dipanggil, dan syukurlah, kami bertiga lulus. Tangis Alia pecah lebih dulu, disusul aku, lalu Raka yang biasanya sok cuek pun ikut menangis. Setelah itu, kami menuju tempat rahasia di perpustakaan. Kami buka kotak impian itu, dan membaca impian-impian yang kami tulis tiga tahun lalu. Beberapa terdengar konyol, seperti “ingin punya 1000 followers Instagram.” Tapi beberapa membuat kami terdiam, seperti “ingin tetap berteman sampai tua.” Kami berpelukan lama di sana, dalam diam yang penuh makna. Tak ada janji manis, hanya keyakinan bahwa ini belum akhir. Kami bertiga saling menandatangani kertas impian itu sebagai simbol persahabatan. Setelah itu, kami pergi ke kantin, membeli es teh dan gorengan seperti dulu. Tapi hari itu, semuanya terasa berbeda. Ada kenangan yang tak akan terulang.
Masa setelah kelulusan adalah masa ujian sebenarnya. Kami masuk ke SMA yang berbeda. Jadwal makin padat, tugas makin berat. Tapi kami tetap berusaha menghubungi satu sama lain. Kadang kami teleponan, kadang hanya saling kirim meme di grup WhatsApp “Trio Ketapang.” Saat ulang tahun Raka, kami bertemu dan merayakan di tempat makan sederhana. Waktu berjalan cepat, tapi kami menolak untuk benar-benar terpisah. Setiap libur semester, kami buat janji bertemu. Kami menonton film, naik sepeda ke taman, atau hanya duduk ngobrol sampai malam. Kami tumbuh, berubah, tapi tetap menjaga satu hal yang sama: persahabatan. Alia mulai menulis blog, Raka ikut klub olahraga di sekolah, aku mulai dapat pesanan gambar online. Kami bangga pada satu sama lain, dan tak pernah lupa bahwa semuanya dimulai dari bangku SMP.
Kadang aku bertanya-tanya, apa yang membuat persahabatan kami bertahan? Mungkin karena kami saling menerima, tanpa syarat. Mungkin karena kami tumbuh bersama, saling menyaksikan versi paling polos dan rapuh dari diri masing-masing. Kami tahu rahasia terdalam satu sama lain, tahu rasa takut, malu, dan impian yang terkubur. Itu yang membuat kami tak bisa lepas. Banyak teman datang dan pergi, tapi hanya beberapa yang menetap di hati. Untuk kami bertiga, tiga tahun di SMP bukan sekadar masa belajar, tapi masa membangun ikatan yang lebih dari sekadar pertemanan. Saat sekarang aku menulis cerita ini, aku tahu, kisah itu masih belum selesai. Mungkin nanti akan ada lebih banyak tawa, lebih banyak tangis. Tapi satu hal yang pasti: pohon ketapang, kotak impian, dan trio semangka itu akan selalu jadi bagian dari siapa kami. Dan kami akan selalu kembali, bahkan ketika dunia sudah berubah.
Bagus gw suka ceritanya
LikeLike